MENGAPA MERASA KESULITAN MENULIS?

Banyak ide di kepala, tetapi sulit mewujudkan dalam tulisan. Mengapa demikian?. Menurut motivator di bidang menulis, jika hal itu terjadi maka kuncinya addalah ikatlah makna dengan menulis. Sebagai mahasiswa yang sangat akrab dengan dunia tulis menulis, misalnya menegrjakan tugas dosen, mari kita bicara hal yang praktis dalam kaitannya dengan manfaat menulis. Menulis sebenarnya kegiatan yang biasa saja.
 
Nah mengapa tidak sekalian saja menulis dijadikan kebiasaan. Dikarenakan besarnya manfaat dalam menulis bagi mahasiswa. Tulisan ini akan membahas mudahnya menyebar ide dan insipirasi kepada publik melalui blog. Menulis di blog bisa membuat seseorang menjadi dosen, mahasiswa dan mentor saat bersamaan. Sebelumnya mari mendiskusikan dahulu cara menjadikan menulis sebagai kebiasaan dengan tips dari saya sebagai berikut:
 
Pertama. menulislah singkat singkat saja. Saya terinspirasi betul dengan Seth Godin yang tiap hari menulis di blognya dengan singkat namun padat pengetahuan dan intisari pengalaman. Kedua. jika sudah terbiasa menulis maka akan merasa kurang jika belum menutup hari dengan menulis. Ketiga, menuliskah di mana saja dan dengan alat apa saja. Saat saya menulis tulisan ini saya gunakan fasilitas notes di smart phone saya, sambil menikmati perjalanan berangkat kerja dengan komuter di pagi hari. Jadi tidak mesti menunggu berhadapan dengan laptop atau komputer baru menulis.
 
Jika demikian mengapa bagi sebagian mahasiswa menulis di blog itu menjadi hal yang memberatkan, padahal dengan terampil dan menarik mereka menulis status di update media sosial mereka dengan tulisan menyentuh dan menggugah semangat? hal-hal berikut ini adalah bisa menjadi kemungkinan jawabannya

  1. menulis di blog perlu waktu lama untuk bisa dikenal publik atau bahkan bisa ‘tercium’ oleh mesin pencari google. Tidak ada instant gratification seperti kita menulis di facebook yang dalam waktu sekejap bisa dapatkan ‘jempol’ atau likes
  2. menulis di blog dianggap perlu punya latar belakang teori padahal tidak selalu. Blog lebih bernuansa ‘diary’ atau refleksi pengalaman.
  3. menulis blog dianggap seperti menulis makalah ilmiah yang membuat mahasiswa merasa mesti tampil ‘sempurna’. Jika penulis itu kemudian berhasil menulis biasanya kemudian blognya menjadi lama diisi kembali dikarenakan energinya habis dan menjadi kehilangan selera untuk mengisinya kembali. Lebih baik menulis singkat. padat dan jelas daripada sekali menulis sempurna lalu setelah itu hilang.

 
Bayangkan jika semua mahasiswa berkenan berbagi pengalamannya lewat tulisan, singkat dan bersemangat, dijamin pendidikan Indonesia menjadi maju dan berkembang dalam waktu yang cepat. Hal ini dikarenakan cerita dari ‘lapangan’ bisa dibagi dan dibaca dan dijadikan inspirasi oleh si pembaca untuk diterapkan di kampusnya masing-masing.
 
Oleh : Agus Sampurno
Sumber: www.gurukreatif.wordpress.com (Diolah kembali atas ijin penulis)